Bacaan halaman 150
Hari ini saya membaca pada bab yang baru lagi "Feels like I worry all the time" Kecemasan. Cemas itu wajar, wajar banget. Malah ini adalah salah satu mekanisme pertahanan hidup manusia. Bayangkan kalau kita gak bisa merasakan kecemasan. Masuk ke tempat berbahaya, nggak ada rasa cemas, malah biasa aja dan berakhir membahayakan diri sendiri. Jadi kita tetap membutuhkan kecemasan, namun kita juga harus kasih batasan untuk kecemasan. Kita perlu bisa membedakan antara prasangka dan prediksi. Prediksi = ada fakta. Prasangka = tanpa fakta. Memikirkan hasil yang belum tentu terjadi adalah sia sia. Karena belum tentu terjadi. Jadinya justru pusing memikirkan hasil dan gak maksimal dalam proses.
Ketika kecemasan gak lagi normal menjadi ekstrem. Misal mereka yang khawatir tentang segalanya yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. mereka memikirkan banyak hal dengan berlebihan, biasanya sampa ada gejala susah tidur, ketakutan dan lainnya. Kecemasan nggak lagi menjadi sesuatu yang baik ketika kita gak bisa memahami sebuah ancama dan mengolah reaksi yang kita keluarkan. Yang memperburuk kecemasan biasanya adalah perasaan cemasnya, mempercayai pemikiran yang irasional. Padahal kemungkinan terjadinya skenario negatif di pikirannha sangatlah kecil bahkan gak masuk akal. Sehingga dia menolak melakukan suatu hal yang justru membuatnya semakin cemas dan berasumsi terburuk. Padahal kalau kita hadapi juga gak papa.
Orang orang dengan kecemasan berlebih terus menerus mereka butuh kepastian, mereka ingin mengetahui "masa depan" Dan ketika nggak mengetahuinya, mereka dihadapkan sesuatu yang baru, mereka merasakan kecemasan itu.
No comments:
Post a Comment