Bacaan halaman 109-119
Hari ini saya membaca bab yang baru yaitu "feels like im never enough" Salah satu cara kia berpikir yang ngeselin adalah Kita menyimpulkan sesuatu berdasarkan reference point. nggak absolut. bayangkan kita punya social medi.. Hal yang bisa kita akses dengan tangan sesering mungkin, segampang itu dan dengan beberapa sentuhan kitabisa melihat gambaran-gambaran kehidupan orang lain yang menyenangkan, lalu kita meratapi hidup kita sendiri. Lalu , lahirlah insecurity. Ini memang salah satu dari sekian banyak faktor, tapi ini faktor yang besar. Kalau tiba - tiba kita merasa insecure, coba berkaca lagi, akhir - akhir ini, apa yang sering mata kita konsumsi? Video - video orang glow up? Pamer harta kekayaan? Itu semua terpupuk. Insecurity munculnya halus banget. Mungkin awal awal emang kita ikut senyum, berandai andai, tapi setelah itu?
Tapi ada hal yang ga bisa kita pungkiri yaitu kitalah yang menentukan standar berdasarkan reference point yang kita terima. Insecurity gabisa dipisahkan dengan comparison atau perbandingan. Hampir semua Insecurity yang kita alami diawali dengan membandingkan dirj kita dengan sesuatu. Contohnya. Orang yang belum menikah insecure dengan temannya yang sudah menikah. Orang yang sudah menikah bisa merasa insecure dengan yang udah punya anak. Kalau reference point kita kayak gitu, gak bakal ada ujungnya. Kita bakal terus terusnya membandingkan.
Killing Insecurity. Seringnya kita lebih memilih untuk berusaha agar orang-orang bisa menerima kita daripada menerima diri sendiri. Self esteem punya peran yang besar. Bagaimana kita bisa "menghargai" seberapa diri kita.
Refleksi tomat
Tomatku masih selalu sehat, aku ga lupa buat nyiramin mereka. dan mereka jadi tinggii, tapi aku lupa buat foto lagi hehe.

No comments:
Post a Comment